Rupiah ‘Ngamuk’, Dolar Australia Ambles 2% ke Rp 9.800

Rupiah 'Ngamuk', Dolar Australia Ambles 2% ke Rp 9.800

Nilai tukar rupiah “ngamuk” pada perdagangan Kamis (30/4/2020), dolar Australia menjadi salah satu korbannya. Sentimen pelaku pasar yang sedang membaik setelah obat dari Gilead Sciences Inc. dilaporkan sukses mengobati pasien dengan penyakit virus corona (Covid-19) membuat rupiah jadi perkasa.

Pada pukul 9:32 WIB, AU$ 1 setara Rp 9.806,46, dolar Australia ambles 1,96% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Sebelumnya dolar Australia sudah membukukan penguatan 6 hari beruntun dengan total 2,72% dan menembus ke atas Rp 10.000/US$.

Dolar Australia sebenarnya sedang dinaungi sentimen positif setelah karantina wilayah (lockdown) di Australia dilonggarkan.

Australia menjadi salah satu negara yang mendapat pujian karena rendahnya tingkat kematian akibat penyakit virus corona (Covid-19). Hingga hari ini, jumlah kasus di Australia sebanyak 6.752 orang, dengan 91 meninggal dunia. Itu artinya tingkat kematian sebesar 1,3%. Sementara jumlah pasien yang sudah sembuh mencapai 5.715 orang atau 85% dari total kasus.

Oleh sebab itu, pemerintah Australia mulai melonggarkan lockdown, sehingga roda perekonomian kembali berputar. Pantai Bondi dan beberapa pantai lainnya di Sydney mulai dibuka kembali Selasa kemarin. New South Wales, di mana setengah dari total jumlah kasus Covid-19 ada di negara bagian tersebut akan memperbolehkan orang berkunjung ke rumah mulai hari Jumat (1/5/2020), sebagaimana dilansir Channel News Asia. Mulai berputarnya roda perekonomian Australia membuat nilai tukar mata uangnya terus bergerak naik setelah merosot di bulan Maret lalu. Pada 20 Maret, kurs dolar Australia menyentuh level Rp 8.479/SG$ yang merupakan level terendah sejak September 2011.

Sejak menyentuh level tersebut, dolar Australia terus menguat, hingga Rabu kemarin total kenaikannya lebih sekitar 18%. Tetapi laju kenaikan dolar Australia sepertinya akan terhenti pada hari ini, sebab rupiah sedang perkasa.

CNBC International Rabu waktu AS melaporkan tahap awal uji klinis remdesivis tersebut yang dilakukan oleh National Institute of Allergy and Infectious Diseases sudah mencapai tahap akhir, dan hasilnya bagus. Direktur National Institute of Allergy and Infectious Diseases, Dr. Anthony Fauci, mengatakan remdesivir menunjukkan hasil yang positif yang “jelas” dalam mengobati pasien virus corona. Sementara itu Gilead juga merilis hasil uji klinis sendiri yang menunjukkan peningkatan kondisi pasien Covid-19 saat menggunakan remdesivir buatannya.

Presiden AS, Donald Trump, pada Rabu waktu setempat mengatakan ia ingin Food and Drug Administration (FDA) bergerak secepat yang mereka bisa untuk menyetujui remdesivir Gilead digunakan sebagai pengobatan virus corona.

“Kami ingin melihat persetujuan yang cepat, khususnya dengan obat yang mampu mengobati Covid-19” kata Trump di Gedung Putih.

FDA sebelumnya juga sudah mengatakan sedang melakukan diskusi dengan Gilead untuk membuat remdesivir tersedia bagi pasien “secepat mungkin, dan setepat mungkin”. Kabar tersebut membuat sentimen pelaku pasar membaik, harapan akan segara berakhirnya pandemi Covid-19 semakin membuncah. Saat sentimen pelau pasar membaik, rupiah akan “mengerikan” bagi lawan-lawannya.

Sumber